Pria itu muncul beberapa hari setelah para rentenir datang dan pergi. Mereka bilang, jika aku gagal melunasi utang, mereka akan terus mengejarku sampai bisa mengoyak isi perutku.
Namun, pria yang mengambil alih tempatku seolah-olah itu miliknya sendiri justru bersikap sangat santai.
“Kau terlihat persis sama. Seolah-olah kau disalin langsung dari mesin.”
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Dia tampak mencurigakan dan berbahaya, tetapi yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya tajam.
“Jangan khawatir. Kau memang tidak akan bisa melunasi uang itu. Jadi, buka mulutmu saja.”
Mungkin dia merasa geli melihatku begitu tak nyaman dengan kehadirannya sampai-sampai tak bisa mandi atau makan. Dia tersenyum sambil menyodorkan makanan kepadaku.
Setelah beberapa hari yang melelahkan, rasa letih dan lapar menyerangku sekaligus.
“Kau juga harus makan sesuatu.”
“Aku akan makan sesuatu yang lain. Pernahkah kau tidur dengan pria?”
Pria itu mengungkapkan keinginannya tanpa ragu sedikit pun. Senyumnya tampak terlalu polos untuk seseorang yang bisa mengatakan hal seperti itu.
Aku benci mengakuinya, tetapi dia terlihat sangat baik hati.
“Karena kau cantik. Karena kau sangat sialan cantik.”
Dengan tangan yang terasa membara, pria itu mengusap wajahku dengan lembut. Suhu di dalam ruangan yang sudah pengap oleh kelembapan musim hujan mendadak meningkat.
Musim panas saat usiaku dua puluh tiga tahun, dipenuhi kehampaan yang seolah tak akan pernah terpuaskan.
Begitulah musim hujan itu dimulai.

Comment
What do you think?