Kapan sebenarnya dia mulai menyadari keberadaan pelayan itu?
Tuan dari kediaman Count, Gray Hincliffe, merenungkan hal tersebut di tengah kesadarannya yang mulai kabur.
Tenggorokannya terasa luar biasa kering. Kapan terakhir kali dia semabuk ini? Sejauh yang dia ingat, belum pernah. Tidak sekalipun.
Ini berbahaya. Dia selalu waspada terhadap kehidupan yang bisa runtuh layaknya istana pasir hanya karena satu kesalahan kecil. Namun, yang merajai benaknya saat ini hanyalah rasa cemas, memikirkan apakah pelayan itu, Emma, masih berada di sisinya.
“Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?”
Pada saat itu, suaranya yang lembut menyapa indra pendengaran Gray. Dia juga bisa merasakan tepukan pelan tangan di pipinya, seolah wanita itu sedang mencoba membangunkannya.
“Apakah Anda tertidur?”
Tak ingin melepaskan sentuhan lembut yang biasa diberikan untuk menenangkan hewan peliharaan itu, Gray segera mengulurkan tangan dan menangkapnya.
“Em… ma.”
Wanita yang terjebak dalam genggaman kasarnya itu ragu sejenak, lalu menghela napas pendek dan berbisik sangat pelan hingga nyaris tak terdengar.
“Ya ampun. Sepertinya ini tetap tidak cukup.”
Apa maksud perkataannya?
Sebelum dia sempat memikirkannya lebih jauh, tangan Gray yang lain sudah terulur ke arah Emma. Cengkeramannya yang kuat dan gigih mengunci tengkuk pucat yang terekspos di atas kerah seragam pelayannya.
Saat buku jari Gray yang tebal dan kasar menyentuh lembut garis leher Emma yang ramping, bahu wanita itu tersentak.
“…Tuan?”
“Hangat.”
Gray menggumamkan kata itu seraya menarik Emma ke dalam pelukannya.
Deg. Deg. Deg.
Dia bisa merasakan dengan jelas denyut nadi yang berdetak di bawah telapak tangannya.
Apakah hanya karena pengaruh alkohol sehingga gerakan kecil dan halus itu mampu membangkitkan gairahnya? Ataukah hasrat menyimpang terhadap pelayan rendah itu akhirnya telah melewati batas dan mencapai titik ledak?
Merasakan sesuatu yang tidak beres, Emma menggeliat seolah mencoba melepaskan diri dari dekapan tersebut.
“Jangan pergi.”
Dia memerintah dengan tegas, mengunci wanita itu dalam pelukannya.
Logikanya menjerit agar dia menghentikan perilaku memalukan ini dan membiarkannya pergi. Namun, aroma lembut dari kulit Emma justru membuat tubuhnya kian terbakar gairah.
“Sampai mabuk seperti ini…”
Anggur di pesta dansa, teh valerian, atau minuman keras sesaat yang lalu. Mana di antara semua itu yang paling membuatnya mabuk?
Yang mendominasi pikirannya sekarang hanyalah insting murni, serta hasrat yang telah lama tertahan, kini akhirnya meluap dan tumpah ruah.
Namun, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak dengan siapa pun, dan tentu saja tidak dengan pelayan ini.
Mengumpulkan sisa-saisa kewarasannya, Gray melonggarkan pelukan dan melepaskannya.
Emma, dengan rambut yang berantakan, mengangkat kepalanya dari dada Gray dan mengerjap beberapa kali. Saat Gray menatap mata ambernya yang jernih dari jarak dekat, jantungnya mulai berpacu liar, berdegup dengan kekuatan yang menghancurkan.
“Tuan…?”
Ah, ini benar-benar berbahaya.
Merasakan kehadiran kejantanannya yang menegang kuat di bawah pusar, Gray mengumpat dalam hati.
“Emma…”
Mendengar suara parau dan kasar Gray memanggil namanya, Emma sedikit memiringkan kepala.
“Anda benar-benar mabuk. Aku belum pernah melihat Anda seperti ini sebelumnya.”
Gray memberikan senyum pahit, sebuah senyuman yang penuh dengan ejekan diri dan kecemasan. Melihat ekspresi manusiawi pada wajah pria berdarah dingin itu, pupil mata Emma menyempit.
“Sejujurnya… Anda terlihat begitu berbeda sampai aku hampir ingin merengkuh Anda.”
Tak.
Mendengar kata-kata itu, sesuatu dalam diri Gray patah.
Logika yang dia pegang teguh hingga saat terakhir, penilaiannya, bahkan trauma mendalam dari masa lalu, semuanya hancur berkeping-keping melalui retakan itu, menyisakan hanya dorongan kejam yang membara.
“Begitu rupanya. Kalau begitu.”
Mata biru kelabu milik Gray berkilat berbahaya. Bahkan dalam kesadarannya yang samar, dia mendapatkan kembali insting sebagai seorang penguasa dan menekan kejantanannya dengan kuat ke perut rata Emma.
Gray bisa melihat dengan jelas wajah Emma yang memerah saat merasakan kehadiran yang mengancam itu. Kulitnya yang biasanya pucat kini berubah sewarna buah persik, membuatnya tampak semakin memikat.
Beberapa patah kata lagi sempat terucap di antara mereka setelah itu. Lalu, pada satu titik, dia benar-benar kehilangan kendali diri.
Duk. Duk. Duk.
“Ugh, ah!”
Di dalam kamar tidur yang redup di mana lampu minyak berkedip karena kehabisan bahan bakar, Emma, yang telah ditelanjangi, berbaring di bawah tubuh Gray, mencengkeram sprei dan mengerang kesakitan.
Dia tahu suara-suara itu tidak boleh terdengar ke luar, tetapi dia tidak sanggup menahannya. Ini terasa sangat menyakitkan, dan sensasinya sungguh asing tak tertahankan.
Setiap kali Gray tanpa ampun menghujam dinding kewanitaannya dan merangsek semakin dalam, napas Emma tersentak dan pinggulnya tersentak ke atas. Pikirannya menjadi kosong, dan dia merasa seolah-olah sedang dibelah menjadi dua. Namun, di saat yang sama, kenikmatan yang begitu hebat hingga membuatnya mati rasa mengikuti seperti sebuah imbalan.
“Ah, ngh!”
Sebelum dia menyadarinya, Emma mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama Gray. Derit ranjang dan suara percintaan yang cabul bergema di dalam kamar tidur yang biasanya sunyi itu.
Tempat yang setiap hari dia sikat dan bersihkan. Tempat di mana dia menghabiskan sebagian besar harinya dengan menahan napas dalam ketegangan yang konstan, seolah berjalan di atas tali.
Duk. Duk.
Lalu bagaimana dengan pria ini, yang berada di atasnya dan menghentakkan pinggulnya seolah telah kehilangan akal sehat?
Pria arogan itu, tuannya yang kasar dan galak, kini membenamkan miliknya ke dalam tubuh Emma dengan ekspresi putus asa, seolah-olah hari ini adalah hari terakhir di dunia.
Lengan pria itu, yang terbentuk dari otot-otot yang padat dan kuat, memegangi pergelangan tangan Emma dengan kokoh, menutup segala celah untuk melarikan diri. Tatapannya yang gelap dan penuh berahi mengikuti ayunan payudara Emma pada setiap tujahan.
“Ah, ngh.”
Milik tuannya terasa terlalu besar dan keras untuk melewati jalan masuknya yang sempit dengan mudah. Air mata menggenang karena rasa sakit dan ketegangan yang luar biasa. Namun, setiap kali pria itu masuk dan keluar, sensasi baru bermekaran, dan rasa sakit itu secara bertahap, lalu dengan tajam, mulai memudar.
Titik-titik sensitif yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya mulai terbangun satu per satu. Sambil terengah-engah, dia bertanya-tanya.
Setelah ini berakhir, apakah aku benar-benar bisa tetap menjadi orang yang sama? Apakah aku masih bisa memandangnya dengan cara yang sama dan menjalankan tugas yang harus kulakukan tanpa goyah?
Gelombang ketakutan yang tiba-tiba membuat tubuhnya menegang.
Merasakan hal itu, Gray menundukkan kepala dengan posisi masih setengah berada di dalam, lalu menyapukan lidahnya di atas puting kanan Emma sebelum menghisapnya kuat-kuat.
“Hngh!”
Kenikmatan tajam dari putingnya yang sensitif menjalar ke seluruh tubuh. Di saat yang sama, jalan masuknya yang semula terjepit kini melonggar seketika, menjadi lembut dan pasrah.
Tak melewatkan momen itu, Gray menghunjamkan pinggulnya sedalam mungkin.
“Ah!”
Namun, itu bukanlah akhirnya.
Menyadari apa yang dirasakan Emma, Gray mendorong miliknya yang tebal dan mengeras bahkan lebih jauh ke dalam. Lebih keras, lebih dalam, lebih tanpa ampun dan kasar, seolah sedang menghukum wanita itu atas semua yang telah dilakukannya hingga sekarang.
“Ah, sakit, sak…!”
Sambil memutar pinggang dan berteriak kesakitan, mata Emma tiba-tiba membelalak, terengah-engah. Di suatu tempat jauh di dalam dirinya, sebuah titik rahasia dipukul dengan keras oleh pria itu.
Namun, yang terbangun bukanlah rasa sakit, melainkan kenikmatan liar yang begitu hebat hingga membuatnya bergidik. Dinding kewanitaannya menjepit dengan sendirinya, menggigit milik Gray, dan gelombang kebahagiaan menyapu dirinya.
“Ah, ahh.”
Sesuatu tumpah dari bawah sana. Saat jalan masuknya menjadi licin oleh cairan, gerakan Gray menjadi lebih mulus dan bahkan lebih intens. Setiap kali dia menarik keluar dan menghujam kembali ke dalam, sensasi lipatan tubuhnya yang merenggang dan melebar terasa sangat nyata.
Hah.
Pada satu titik, lampu minyak padam, menenggelamkan kamar tidur ke dalam kegelapan total. Dalam kehampaan yang gelap gulita itu, mereka berdua terjalin semakin liar, melanjutkan pergumulan mereka layaknya pertarungan yang brutal.
Duk. Duk. Kriit. Kriit.
Tanpa dia sadari, Gray telah menariknya ke posisi merangkak, meregangkan pinggulnya, dan menghujam dari belakang.
“Ugh!”
Saat titik sensitif di sepanjang bagian belakang tubuhnya, dari bawah bukaan menuju ke dalam, tergesek kuat, dia berteriak dan melemparkan kepalanya ke belakang.
“Nggh, ngh.”
Erangan terus mengalir dari mulut Gray yang terkatup rapat. Wajah tampannya terdistorsi oleh kenikmatan, hingga akhirnya dia luluh sepenuhnya, tak berdaya oleh sensasi itu.
“Ah, ah, ahh!”
Emma kini hanya bisa gemetar tanpa daya, menyerahkan tubuhnya sepenuhnya pada gerakan Gray. Indranya yang menajam di tengah kegelapan terfokus sepenuhnya pada keberadaan yang bergerak jauh di dalam dirinya, menghapus segala hal lainnya.
Apakah aku benar-benar diizinkan untuk merasakan hal seperti ini? Dan dengan Gray Hincliffe, dari semua orang di dunia ini? Bagaimana bisa keadaan menjadi seperti ini? Apa yang aku, apa yang kami, lakukan?
Rasa takut melonjak sesaat, hanya untuk disapu kembali oleh kenikmatan beberapa saat kemudian.
Stimulasi yang berlebihan membuat matanya kembali basah. Sensasi itu membengkak semakin panas dan keras, dan di saat yang sama, tujahan Gray menjadi lebih cepat dan lebih ganas. Dia menggelengkan kepalanya dengan liar, wajahnya berkerut, rasa takut dan ekstasi menerjangnya seperti gelombang pasang.
“Ah, ahh!”
Ini salah. Kami tidak boleh seperti ini. Kami berdua akan berakhir hancur.
“Gnh.”
Pada saat gerakannya mencapai puncak, erangan kenikmatan yang luar biasa pecah dari bibir mereka berdua secara bersamaan.
Terjalin menjadi satu, mereka jatuh ke atas tempat tidur. Tubuh mereka berlumuran cairan dan jejak darah tipis, tampak seperti binatang yang basah kuyup dari kepala hingga ujung kaki.
Semuanya sudah berakhir sekarang.
Emma bergumam dalam kesadarannya yang linglung. Namun, itu pun tidak lebih dari sekadar ilusi belaka.
Dua bulan yang lalu.
Kediaman Count Hincliffe di ibu kota Kekaisaran Penrosia.

Comment
wih tambahin Mia has returned min😚
Wah ada novell